Dituding Sebagai Pemimpin Zalim, Begini Jawaban Telak Presiden Jokowi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya buka suara soal tudingan terhadap dirinya yang pernah disebut sebagai pemimpin dzalim.

Hal itu disampaikan Presiden Joko Widodo dalam program NET TV, '30 Menit Bersama Presiden', yang dipandu oleh Rikha Indriaswari, Minggu (7/10/2018) malam.

Sebelumnya, Presiden Jokowi menjawab seputar hoaks tentang keturunan PKI terhadapnya.

Ia membantah keras disebut keturunan PKI.

Menurut Jokowi tudingan itu terlalu mengada-ada.

Jika ada yang masih tak percaya, Jokowi mempersilakan siapa saja mencari latar belakangnya apakah benar ia berafiliasi dengan PKI?

Siapapun boleh bertanya kepada lembaga atau kepada tetangga Jokowi di kampung halamannya, di Solo.

Kemudian Rikha juga bertanya bagaimana reaksi Jokowi saat disebut pemimpin zalim.

"Ada yang memposisikan bapak (Jokowi) sebagai pemimpin yang menzalimi kelompok tertentu," kata Rikha.

Jokowi dengan nada agak tegas, menjawab itu semua.

"Coba dilihat tadi, PKI, antek asing, antek aseng, kriminalisasi ulama, dan lain-lain. Itu saya mendzalimi atau ada yang mendzalimi saya? Coba dilihat baik-baik," ujar Jokowi.

"Jangan dibolak-balik. Siapa yang mendzalimi? Siapa yang dizalimi?," tandas Jokowi.

Presiden Jokowi menilai, selama ini sebagian masyarakat sudah paham soal siapa yang zalim sebetulnya.

Lanjut Jokowi, saat ini sepakat jika alam demokrasi sudah merambah ke media sosial.

Siapa saja yang menyampaikan kritik kepada pemerintah via media sosial, ia mempersilakan.

Tapi bagi Jokowi harus dibedakan mana kritik mana hujatan.

"Boleh-boleh saja dalam alam demokrasi ini boleh saja memberi saran kepada pemerintah, memberi masukan silakan saja. Mengkritik juga silakan, kritik yang lunak, sedang, keras, silakan," ucapnya.


"Tapi tolong ini dibedakan, yang namanya kritik dengan menghina itu berbeda. Kritik dengan menghujat itu juga berbeda. Kritik dengan hoaks itu beda. Kritik dengan makar juga berbeda," ujar Jokowi.

Jokowi meminta agar masyarakat jeli terhadap perbedaan semua itu dan tidak dicampur-campur mengatasnamakan kritik dalam demokrasi.

"Itu bukan demokrasi, tapi anarkis," ujar Jokowi.

Simak video lengkapnya di bawah ini:


Melengkapi pernyataan Jokowi, sebelumnya ia juga merasa prihatin beredarnya isu hoaks terkait bencana di Indonesia.

Menurut Presiden ke-7 RI ini, itu sebuah tindakan pengecut, tindakan biadab, karena mengabarkan hal-hal yang tidak sesuai dan tidak benar.

Padahal pemerintah menurut Jokowi tengah bekerja keras agar kondisi lokasi terdampak pascagempa bisa pulih secepatnya.

Jokowi pun membeberkan bagaimana ia menjadi korban hoaks oleh orang tak bertanggung jawab secara masif.

Salah satunya adalah soal isu keturunan PKI.

"Ya ini kan ini kan dimulai dari tahun 2014, dari Obor Rakyat, setelah itu ada lagi Saracen yang mengabarkan mengenai Jokowi itu PKI. Ya, logikanya enggak masuk," tegas Jokowi.

"Bahkan ada foto dikabarkan bapak bersama DN Aidit, sejajar gitu," timpal Rikha.

Mendengar pertanyaan itu, Jokowi kemudian tersenyum.

"Perlu saya sampaikan, yang pertama saya lahir tahun 1961, PKI itu dibubarkan tahun 1965-1966. Artinya umur saya baru 4 tahun. Kan logikanya enggak masuk," tambah Jokowi yang kemudian tertawa kecil.

"Masa ada PKI balita?" tanya Jokowi.

Ia kemudian menambahkan soal foto rekayasa ia bersama DN Aidit.

Jokowi sudah mengecek foto tersebut dan ia mendapat informasi jika foto itu diambil pada tahun 1955.

"Saya lahir saja belum masak sudah berjejer?" ujar presiden.

Lanjut Jokowi, isu PKI yang menderanya ini ia anggap sangat meresahkan karena bisa membuat rakyat gaduh dan bertanya-tanya.

"Inilah jahatnya yang namanya hoaks. Kadang-kadang politik kotor menghalalkan segala cara. Dan itu tidak sesuai dengan nilai-nilai KeIndonesiaan kita," ujarnya.

Menurut Jokowi jika hoaks tidak diselesaikan, bisa mengadu domba, meresahkan, dan menimbulkan rasa takut di benak rakyat.


sumber isi berita: tribunnews.com
komentar
0 komentar

0 komentar